Oran dan Sampar

Kini aku berada pada bab dua, sudah seperempat perjalanan. Perbedaan antara keputusasaan dan kepasrahan begitu tipis. Penduduk kota Oran sempat berharap angan kalau kalau si sampar ini bisa segera pergi. Tapi, siapa manusia yang dapat menjamin dan meramal dengan tepat bahwa epidemi akan segera lenyap dari kota kesayangan mereka. Kota Oran ditutup, pembatasan komunikasi dilakukan dalam kota maupun ke luar kota, jumlah korban meninggal bertambah seiring waktu, kadang naik kadang bisa turun. Perasaan cemas mengalir jelas pada wajah-wajah mereka, terbit tenggelam dalam waktu tak menentu. Terdapat satu bagian dimana mereka dapat melepaskan rasa gelisah dan kemarahan tanpa terlihat peduli pada sampar, namun waktu-waktu itu tidak berlangsung lama. Mereka masih ingat, bahwa sepenuhnya belum bisa bebas. 

Penggambaran situasi yang ditulis oleh Camus begitu nyaman dibaca hingga aku terkadang lupa bahwa betapa nelangsa nya masyarakat setempat yang harus bertahan melawan keberadaan sampar yang terasa menjijikan.  Dengan terpaksa mereka harus merelakan dan mengorbankan perpisahan dengan orang tersayang tanpa bisa mengetahui jelas kapan si sampar akan melepaskan aktivitas perburuannya, agar dapat bertemu rindu kembali dengan orang-orang tercinta. Belum lagi efek musim panas yang semakin menyengat kota Oran, ketakutan-ketakutan yang tersimpan lama-lama menjadi nyata. 

Pihak pemerintah setempat telah mengabarkan peraturan wajib agar penduduk Oran tidak meninggalkan kota dengan sia-sia, melalui aturan baru yang telah terbit warga yang melanggar akan dikenakan hukuman penjara. Binatang-binatang pun mulai terkena imbasnya, aku berpikir disini mungkin mereka juga hendak mencari jalan keluar namun usaha melayang begitu saja saat tertangkap mata oleh petugas khusus. Aku tidak akan menjelaskan bagian ini dengan detail; tapi bisa kubayangkan dengan jelas betapa malangnya nasib para hewan kesayangan banyak orang ini. 

Dr. Rieux nampaknya telah berserah diri pada keadaan. Ia terlihat mulai menerima bahwa Sampar memang sedang "berwisata" di kota Oran.Tugasnya sekarang sebagai dokter adalah melayani dan membantu para pasien. Grand, masih sibuk dengan dirinya dan karya tulisannya, lalu Cottard yang......eum, dia sedikit aneh, aku masih belum paham bagaimana menggambarkan sosoknya yang terlihat janggal. Rambert si wartawan yang bersikeras untuk bisa keluar dari Oran dan pergi menemui istrinya. Dan Tarrou, mencatat bagian-bagian penting dari epidemi, ia mengobservasi lebih dalam dari diantara keempat tokoh lainnya. 



sekian, tulisan ini hanya segelintir gambaran yang berlangsung pada buku berjudul Sampar karya Albert Camus, tepatnya ketika aku membaca halaman 130-150. Baru setengah...tidak, kurasa perjalananku bersama Rieux dan kawan-kawan akan berlangsung lebih lama lagi. 

Comments

  1. aku baca paragraf awal langsung keinget keadaan China yang lagi karantina ketat. nggak boleh keluar sama sekali even beli makanan. gila sih. sampe banyak warga yang menjerit kelaparan di social media

    btw, buku ini buku lama ya, Re? gaya bahasanya enak nggak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya chaosnya hampir mirip kak, ceritanya memang mengingatkanku dengan pandemi covid juga sih, dampak dan penggambaran kondisi yg nyaris mirip bgt.

      Iyap buku lama, untuk terjemahannya kurang mulus kalo di aku, dan belom selesai kubaca juga nih 😅, kalo mau Kak Dea bisa baca yg versi english nya lewat scribd.

      Delete

Post a Comment

Postingan Populer

Perfect Blue (1998): Bukan untuk Sembarang penonton

Sampar oleh Albert Camus (#JanexLiaRC)