Thursday, 23 May 2019

PASUNG JIWA (2015)


ON REVIEW – NOVEL : PASUNG JIWA



Penulis : Okky Madasari
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan Kedua : Oktober 2015
ISBN : 978-602-03-2220-9
328 halaman


Blurb :
Akankah kehendak bebas benar-benar ada? Apakah manusia bebas benar-benar ada? Okky madasari mengemukakan pertanyaan-pertanyaan besar dari manusia dan kemanusiaan dalam novel ini.
Melalui dua tokoh utama, Sasana dan Jaka Wani dihadirkan pergulatan manusia dalam mencari kebebasan dan melepaskan diri dari segala kungkungan. Mulai dari kungkungan tubuh dan pikiran, kungkungan tradisi dan keluarga, kungkungan norma dan agama, hingga dominasi ekonomi dan belenggu kekuasaan.

***    

Bukan kali pertama saya membaca karya Okky Madasari, 2 buku yang sebelumnya pernah saya baca yaitu Kerumunan Terakhir & Yang bertahan dan Binasa Perlahan (kumpulan cerita) nyaris selalu membuat saya menyukai gaya penuturan tulisan Okky Madasari yang mengalir apa adanya. Pertama kali saya membaca kumcer yang ditulisnya dalam Buku Yang bertahan dan Binasa perlahan mendapati bahwa saya langsung menyukai poin yang diceritakan, makna dan gaya penulisannya. Begitu juga dengan Pasung Jiwa.

Sasana, sang tokoh utama merupakan anak dari keluarga mapan yang kedua orang tuanya bekerja sebagai pengacara dan dokter bedah. Saat sejak dalam rahim, Sasana sudah diperdengarkan alunan nada dari alat musik Piano yang dimainkan oleh ibunya, ia menyukai dan terbuai dengan nada-nada merdu, tapi tak lama. Begitu dilahirkan, Sasana tak menyukai lagi bunyi piano yang selalu menemaninya sampai tertidur pulas dikala dalam rahim. Ayah dan Ibunya, semenjak ia dilahirkan selalu mengenalkan Sasana pada piano, piano dan piano.

Bertambah umur keterampilan Sasana terhadap piano semakin mahir dan sering tampil sana sini. Sasana hanya melakukan semua itu demi menuruti kemauan dan “tradisi” keluarganya pada piano. Ia tidak bertahan, ia tidak menyukainya, Sasana tidak menikmati sedikitpun dari indahnya bermain bersama dentingan nada piano. Sasana menganggap bahwa dia telah terkurung, terkurung dalam tingginya tumpukkan kemauan kedua orang tuanya, dan ia hanya mematuhi lalu bermain piano dengan rasa hadir yang terpaksa.

Hingga pada suatu saat, di dalam momen yang tidak sengaja Sasana menemukan kenikmatan yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya saat bermain Piano, yaitu musik dangdut. Ya, ia merasa bebas dan seperti melayang saat mendengar dentuman ayu-nya musik dangdut. Tetapi, ketertarikannya pada dangdut tidak dibiarkan lolos oleh kedua orang tuanya, hingga ia mendapat teguran keras berkali-kali saat didapati tengah menikmati musik itu di dalam kamarnya.

Bukan hanya soal ketertarikan Sasana pada musik dangdut, ia memiliki adik perempuan yang sangat ia sayangi, dan kagumi sekaligus iri. Perjalanan sasana dalam mencari apa itu kebebasan juga terpaut oleh adiknya, Melati. Ia menganggap sungguh beruntungnya menjadi Melati, ia lebih banyak tersenyum dan tertawa di masa-masanya, dibandingkan dirinya- Sasana. Saat memasuki SMA pesantren ,ia di bully oleh senior di sekolahnya, begitu berlanjut terus selama beberapa waktu, dan di saat bersamaan ia menyadari bahwa betapa bencinya ia terhadap laki-laki yang dalam diri mereka hanya penuh dengan kekerasan, ia benci laki-laki dan membenci dirinya sebagai laki-laki.

Bagi sekolah ini, keributan, perkelahian, penganiayaan adalah urusan kecil remaja laki-laki yang bisa diselesaikan. Aku pun jadi membenci laki-laki. Membenci diriku sendiri yang menjadi bagian laki-laki. Jika aku bukan laki-laki, aku tak akan masuk sekolah ini. (hlm. 35)

Perjalanan Sasana berlanjut saat ia pergi ke Malang untuk melengkapi jenjang pendidikannya, yaitu S1. Sampai dimana ia bertemu dengan Cak Jek, laki-laki yang mahir bermain gitar dan penikmat musik dangdut. Dari situ, Sasana semakin akrab dan betah berteman dengan Cak Jek. Sasana bukan hanya mahir bernyanyi tapi terampil dalam bergoyang jika bersama musik dangdut, sehingga Cak Jek mengajaknya ngamen bersama. Sampai-sampai kuliahnya ia tinggalkan, semua ia serahkan demi kebebasannya, yang penting masih bisa bergoyang dengan musik dangdut.  

Tak hanya itu, karena Sasana semakin dikenal di daerah mereka nongkrong dan cari uang, Cak Jek berinisiatif dengan idenya agar Sasana tampil dengan dandanan perempuan seksi untuk memikat warga yang mau menonton. Caranya yang terbilang cukup sukses hingga membuat mereka bisa pentas di beberapa daerah. Tidak hanya perubahan tampilan saja, Sasana merubah namanya menjadi Sasa. Sasa yang sangat menikmati profesinya saat itu. Sasa yang punya kebebasan. Sasa yang menikmati goyangan dan kebebasannya.

Berbagai pengalaman mereka temui sebagai pengamen, hingga pada suatu hari terjadi tragedi yang membuat mereka kehilangan harapan dan cita-cita bersama. Setelah kejadian itu, Sasana dan Cak Jek berpisah. Mereka tidak lagi hidup bersama, mereka menjalani hidup dan memupuk harapannya masing-masing. Tentu saja itu semua tidak langsung berjalan lancar seperti yang dibayangkan Sasana maupun Cak Jek. Mereka di halangi paku – paku dan peluru tajam yang selalu siap menembak pikiran dan jiwa mereka. Mulai dari Sasana dan Cak jek yang ingin merebut kebebasan yang dirampas oleh pihak yang tidak bertanggung jawab lalu mereka di kurung selama beberapa waktu dan lepas kembali tanpa jaminan kehidupan. 

Terlepas bukan berarti benar-benar bebas, pergolakan hidup mereka tetap berlanjut pada Sasana yang harus di rawat di rumah sakit Jiwa, dan lagi terjadi ia terkurung di dalam tempat yang sama sekali tidak ia inginkan. Saat disana ia bertemu dengan 2 orang yang menurut Sasana, ia dapat mengungkapkan apa yang ia rasa, yaitu Banua dan Masita. Banua adalah pasien di RSJ, dan Masita adalah dokter yang sedang meneliti di Rumah Sakit tersebut.

“pikiranku sudah mati rasa. Cuma ikut saja pada apa yang dianggap sudah seharusnya” (Banua -hlm.137).  Bagus sekali kalimatnya. Kalimat dari mulut yang sudah lama diperkosa untuk hanya mengatakan apa yang dianggap layak bagi mulut Banua.

“ban..ban..kamu malah membuatku sadar,kita semuanya sedang terpenjara. Terpenjara aturan. Disini kita bisa membebaskan tubuh kita,karena kita sedang gila. Tapi itu pun tak mampu membebaskan pikrian kita. buktinya, kamu masih gelisah kayak gini, kan?” (Sasana - hlm. 139)

Dan lagi saat-saat dimana Sasana dan Masita memiliki percakapan yang mendalam diantara mereka. Saat Sasana mengetahui bahwa ia adalah objek penelitian Masita, dan ia bertanya padanya tentang bagaimana orang-orang di dalam RSJ.

“tidak ada jiwa yang bermasalah. Yang bermasalah adalah hal-hal yang ada di luar jiwa itu. yang bermasalah itu kebiasaan, aturan, orang-orang yang mau menjaga tatanan. Kalian semua harus di keluarkan dari lingkungan mereka, hanya karena kalian berbeda”. (Masita -hlm. 146)

Sejak saat itu Sasana semakin nyaman berbicara dengan Masita. Masita yang awalnya ia anggap sama dengan peneliti umumnya, tapi ia berbeda.

Masita melihat dari mata kami- Sasana

Lalu bagaimana dengan Cak jek? Cak Jek yang melanjutkan hidupnya sebagai buruh pabrik elektronik, dan tentu saja itu adalah pekerjaan yang dianggapnya seperti robot. Setiap hari ia hanya harus mengelap ratusan kaca untuk dipasang dalam TV, setiap harinya tanpa harus berpikir sedetikpun. Cak Jek jenuh dan semakin jenuh dengan amarah saat ia mengetahui terdapat perlakuan tidak adil dari perusahaannya itu terhadap beberapa karyawan dan dirinya sendiri. Perlakuan tidak wajar, melecehkan, dan tidak bertanggung jawab. Lantas ia merencanakan aksi demo dan mogok kerja, sesaat setelah ia menyadari bahwa rencananya itu nyaris ketahuan dan gagal dan malahan ia yang mendapati masalah lebih besar, di kejar-kejar aparat dan melarat dalam kemiskinan.

Last but not the last. Perjuangan mencari arti kebebasan dan sumber kebebasan yang digambarkan oleh Okky Madasari melalui 2 tokoh utama, Sasana dan Cak Jek alias Jaka memberikan banyak pengaruh dalam karakter masing-masing tokoh. Sasana yang membenci dirinya yang sebagai laki-laki menemukan kebebasannya saat ia menjadi Sasa tapi ia tak sepenuhnya bebas, tidak dengan pikirannya. Yang kemudian selalu diikuti rasa bersalah pada orang tua dan adiknya. Ia menganggap bahwa dirinya adalah terlahir dengan segala perangkap. Dimulai saat ia lahir dengan keterpaksaannya terhadap tradisi keluarganya pada kesempurnaan, terkurung dalam kekerasan yang ia alami saat SMA hingga menimbulkan kebencian terhadap dirinya sendiri sebagai laki-laki, sampai ia dewasa saat menemukan Sasa dalam dirinya, ia masih terperangkap dan belum terbebas.

“seluruh hidupku adalah perangkap. Tubuhku adalah perangkap pertamaku. Lalu orang tuaku, lalu semua orang yang kukenal. Kemudian segala hal yang kuketahui, segala sesuatu yang kulakukan. Semua adalah jebakan-jebakan yang tertata di sepanjang hidupku. Semuanya mengurungku, mengurungku menjadi tembok-tembok tinggi yang menjadi perangkap sepanjang tiga puluh tahun usiaku”. (Sasana - hlm.293)

*** 

Wah pegel bok. Baru kali ini saya menulis review sampai lancar begini dan sampe 6 halaman. Ini juga berkat cerita yang di tuangkan kak Okky Madasari di setiap bab nya. Saya harus bilang, banyak banget hal-hal yang ingin saya tumpahkan di dalam review kali ini, tapi sepertinya tidak mungkin, yang ada saya malah nulis ulang apa yang udah ditulis sama kak Okky. 

Selain 2 tokoh utama diatas, ada tokoh-tokoh lain yang saya sukai seperti Masita, ia pemeran wanita yang jujur dan berani. Saya banyak mendapat catatan kecil selama membaca novel Pasung Jiwa, termasuk ocehan Banua yang dianggap sinting oleh Sasana. Lalu cara kerja otak dari Cak Jek yang selalu ingin menjadi Seniman Profesional dan gaya berbicaranya yang seperti sok tahu, kemudian juga ada Ibunya Sasana yang saya kira ia tidak akan mendukung Sasana sampai akhir #nospoiler oke, dan tentunya berbagai peristiwa yang telah dialami oleh para tokoh didalamnya.

Ketiadakadilan, kekerasan, hilangnya tanggung jawab. Apa kemanusiaan itu sendiri? Apa kebebasan itu sendiri? Novel ini ingin mengetuk kita jauh kedalam peristiwa yang terjadi di sekitar bahkan mungkin sebelum kita lahir atau baru saja dilahirkan. Isu yang ditampilkan dalam novel Pasung Jiwa bersinggungan dengan isu kemanusiaan, sistem sosial, ekonomi, dan politik. Bagaimana mereka, masyarakat yang setengah mati berjuang melawan ketidakadilan, mencari kebebasan dan kemanusiaan yang seringkali hilang saat zona nyaman mereka yang berstrata tinggi diusik.  

Diakhir ceritanya,saya sedikit kecewa tapi saya suka dengan endingnya dimana kedua tokoh bisa benar-benar merasakan kebebasan dalam versi mereka. Bebas dari kungkungan, dari jeratan dan itu semua memang memungkinkan, jika benar terjadi.

Reasons Why do I like To Read this Book!?

Ada  2 hal yang membuat saya suka dengan novel ini. Pertama, adalah bagaimana Konflik yang dialami Sasana dan Cak Jek benar-benar menguasai pikiran saya saat membaca dan saya menikmatinya, karena tidak semua novel yang saya baca dapat saya nikmati dengan benar dan serius. Saya kian berkhayal, mungkin yang seperti Sasana ini ada di kejadian nyata, terlebih apalagi yang dialami oleh Jaka Wani, persoalan hidupnya pasti masih banyak kita temukan, tak terhalang jika sekarang adalah era digital yang semuanya semakin mudah dijangkau. Apa benar? Benarkah rakyat sudah menikmati dan tentram dengan kondisi Negara kita saat ini dengan yang katanya “sudah tidak ada yang tidak bisa kita lakukan dengan adanya internet dan teknologi, semua praktis”, hm saya malah tambah tidak yakin. Oh kok malah ngelantur.

Lalu yang kedua. Gaya Penulisan kak Okky yang sangat sangat nikmat dibaca. Saya suka dengan penulis yang gaya menulisnya tidak bertele-tele, lugas, detail dan khas dalam menggambarkan karakter. Karakter Melati yang hanya sedikit mendapat tempat, tapi saya bisa membayangkan dengan jelas seperti apa melati yang sangat di sayangi oleh Sasana, adik yang sangat menyayangi kakaknya apapun yang terjadi, ia digambarkan seperti tokoh Masita.  

Terlepas dari cerita, ada kekesalan yang sering terlintas saat saya tahu bahwa Sasana nyaman dengan profesinya di Malang. Saya kesal “kenapa mesti dandan ala perempuan, dan bahkan dia menikmati itu”. imajinasi saya tidak bisa berhenti bermain saat membaca lalu terbayang Sasana sosok laki-laki yang gemulai dalam goyangannya lalu berdandan menor ala pedangdut wanita, saya agak geram. Tapi, mau diapain? Itulah yang menjadi keseruannya, walaupun begitu tapi Sasana masih normal dan tetap menyukai Wanita (saya kasih sedikit bocoran), walau saya sedikit risih saat Sasana selalu menyalahkan dirinya sebagai laki-laki. 

Intinya. Jujur, banyak sekali yang ingin saya ceritakan, kalau ada teman ingin berbagi kesan dari novel ini disini, di blog saya. HI, OKE LET’S TALK! Dan terakhir, Buat kalian yang suka baca novel bertema seputar sisi pahit dan manis kehidupan, mempertanyakan kemanusiaan, dan sistem sosial, wajib baca karya-karyanya Okky Madasari!



Sekian ON : Review kali ini. Sampai bertemu di Review selanjutnya! 
Read More

Friday, 3 May 2019

YOGISHA X No Kenshin – Kesetiaan Mr. X (2016)



ON REVIEW – NOVEL : YOGISHA X No Kenshin – Kesetiaan Mr. X




Penulis : Keigo Higashino
Alih bahasa : Faira Ammadea
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan pertama : 25 Juli 2016
320 halaman


Sinopsis:
Ketika si mantan suami muncul lagi untuk memeras Yasuko Hanaoka dan putrinya, keadaan menjadi tak terkendali, hingga si mantan suami terbujur kaku di lantai apartemen. Yasuko berniat menghubungi polisi,tetapi mengurungkan niatnya ketika Ishigami – tetangganya menawarkan bantuan untuk menyembunyikan mayat itu.

Penyelidikan polisi – detektif Kusanagi mengarah pada Yasuko. Namun sekuat apapun insting detektifnya, alibi wanita itu sulit dipatahkan. Kusanagi akhirnya berkonsultasi dengan sahabatnya, Dr. Manabu Yukawa sang Professor Galileo yang ternyata teman kuliah Ishigami.   

***  

Halo May!
Kali ini saya mau memberi ulasan sedikit tentang novel yang penulisnya berasal dari Negara sakura – Jepang, Yogisha X No Kenshin.

Novel karangan Keigo Higashino yang berjudul Kesetiaan Mr.X (dalam bahasa Indonesia) saya temukan dengan kebetulan, waktu itu saya lagi iseng cari referensi lewat buku-buku yang telah di baca oleh para idol Kpop. Nah, menariknya saya temukan novel ini dari salah satu member Boygroup, yaitu Kai-Exo. Yap, gara-gara dia saya jadi pingin baca novel ini hanya dengan membaca sekilas ulasan dari penulis blog yang tertera di dalamnya dan kebetulan, saya pun penggemar dari fiksi crime-mystery yang akhirnya saya putuskan untuk membaca langsung sehari habis sampai tamat. 

Oiya saya baca novel ini lewat aplikasi yang bernama iPusnas. Kalian bisa baca gratis disana dengan syarat membuat akun ePustaka dan langsung bisa mengakses dan membaca gratis buku-buku koleksi dari iPusnas.

Lanjut ke Review. Tokoh utama Tetsuya Ishigami yang berprofesi sebagai Guru Matematika di salah satu SMA swasta menyimpan sebuah rasa kekaguman besar terhadap salah satu karyawan Kedai bento. Disetiap paginya ia akan selalu datang dan memesan bento demi melihat orang yang special bagi Ishigami. Ia dan wanita itu tinggal bersebelahan di dalam sebuah apartemen, namun Ishigami tak pernah berani untuk memulai percakapan dengannya. Hingga suatu saat, terjadi tragedi pembunuhan di tepi Sungai Edo dengan mayat dalam keadaan yang cukup mengenaskan. Pembunuhan tersebut dinyatakan dengan dugaan bahwa korban adalah sang mantan suami Yasuko Hanaoka, yaitu Togashi, yang memang sudah dinyatakan hilang sejak beberapa hari yang lalu.

Penyelidikan polisi ,tentunya detektif Kusanagi yang terus melancarkan aksi dan praduga sesuai dengan bukti dan alibi yang ada, namun tidak menemukan titik terang dari kasus tersebut. Dugaan atas korban dari mantan suami Yasuko alih-alih malah menemukan arti bahwa Yasuko tidak terlibat dalam kasus pembunuhan Togashi. Semakin rumit dan semakin tinggi harapan detektif Kusanagi dalam memecahkan kasus tersebut Kusanagi percaya bahwa kemungkinan kasus pembunuhan Togashi adalah kasus pembunuhan terencana yang jenius dan kompleks.

Tidak menyerah, Kusanagi memiliki sahabat yang bernama Yukawa dan akhirnya ia secara tidak langsung meminta bantuan terhadapnya. Awalnya Yukawa terihat tidak berminat dengan kasus yang ditangani oleh Kusanagi tapi begitu ia mendengar terdapat informasi bahwa Kusanagi baru saja bertemu dengan Mahasiswa lulusan Universitas Teito yaitu Ishigami, ia pun sedikit merubah keputusannya. 

Rasa takjub dan kagumnya Yukawa terhadap Ishigami tidak pernah hilang, yang menyebabkan ia ingin bertemu dan bernostalgia bersama teman kampus terdahulunya, yang mana pertemuan kembali 2 sejoli sang jenius matematikawan dan sang ahli fisikawan yang cerdas akan kembali beradu otak dengan analisanya.

Tidak butuh 1 hari untuk melancarkan dalam membaca novel karangan Keigo Higashino yang satu ini. Tulisan beliau sangat enak untuk dibaca dan di telusuri sampai tamat. Alur cerita yang tersurat dalam cerita ini merupakan alur campuran. Pada pembukaan, cerita dibuka dengan bagaimana kehidupan rutinitas Ishigami di awal hari hingga pada konflik pembunuhan terjadi, mulai diceritakan bagaimana tokoh lain yang bersangkutan dengan Ishigami di bahas dengan alur mundur, dan begitu seterusnya dan kemudian akan kembali pada alur maju.

Matematikawan Ishigami– digambarkan dengan seorang pria yang jenius dan hanya hidup di kelilingi oleh sekumpulan atribut matematika. Ia memang sedikit aneh, namun juga penganalisis yang cermat dan teliti, tak lupa ia adalah seorang bujangan yang memiliki karakter kaku dan dingin terhadap orang lain, hanya bersama Yukawa ia dapat berinteraksi lebih baik.

Berbeda dengan Yukawa. Jujur, disini saya suka dengan karakter Yukawa yang sedikit lebih fleksibel dalam berhubungan dan berinteraksi, ia tidak mengandalkan dan tidak mudah terpedaya pada insting, pun ternyata ia juga tidak dapat menyangkal instingnya dalam kasus pembunuhan kali ini. Persahabatan mereka terlihat bagaimana mereka saling melemparkan pernyataan/deduksi terhadap suatu masalah ya yang tentunya masih berurusan dengan matematika dan analisanya.

“bagaimana dengan soal P versus NP? Mana yang lebih mudah? Menjawab berdasarkan ide sendiri atau memastikan apakah jawaban yang kita dengar dari orang lain itu benar atau salah?.” Ishigami (hlm. 245)

Ishigami yang pandai membuat simulasi dan Yukawa yang pandai memuat bukti melalui eksperimennya. Cerita ini tidak hanya membuat saya mengerutkan dahi atas peristiwa ganjil pada pembunuhan, tapi juga bertanya-tanya terhadap tokoh Ishigami

“apakah itu yang ia sebut kesetiaan dan cinta?”


Yah. Overall, saya sangat suka dengan ceritanya. Bukan hanya persoalan kesetiaan Ishigami pada Yasuko, tetapi juga persahabatan antara Ishigami-Yukawa dan Kusanagi-Yukawa. Dibalik perbuatan pasti ada alasan, dibalik alasan pasti ada cerita. Itulah makna yang saya tangkap dari judul dan isi cerita novel tersebut. Analisa demi analisa, bukti demi bukti semakin menguatkan pertarungan batin Yukawa saat mencoba memecahkan kasus tersebut. Hal ini semata-mata bukan hanya dilakukan untuk mengungkapkan siapa pelaku pembunuhan tetapi juga mengusut pertanyaan akankah benar Ishigami terlibat dalam pembunuhan terencana dan mengapa ia sampai rela melakukan hal seperti itu.

***

Pokoknya, saya menyarankan kalian membaca novel ini jika kalian penggemar fiksi crime-mystery. Melihat endingnya, saya sedikit tergelitik untuk mengatakan “hah, apa ini benar-benar endingnya?”. Saya dibuat untuk melengkapi sendiri bagian-bagian akhir yang ternyata sangat ringkas dalam novelnya. Sangat ringkas dan mengharukan.

“kadang demi menolong seseorang, yang harus kita lakukan hanyalah hadir di tempat itu.” Ishigami (hlm. 313)


Untuk para tokoh, saya suka dengan semua tokoh yang berkonstribusi, terutama Profesor Munabu Yukawa. Terakhir, terjemahan bahasa indonesianya sangat enak untuk dibaca, tidak terlalu kaku dan tersusun rapih.

Sekian ON : Review kali ini. Sampai bertemu di Review selanjutnya!




Sinopsis : iPusnas

Read More

Tuesday, 30 April 2019

Kehidupan Rumah & Sekitarnya


Eksistensi manusia bersama rumahnya. rumah bersama lingkungannya. manusia bersama tempurung dan bagian-bagian lainnya.

Google 


Hari ini gue mau cerita sedikit tentang kehidupan Rumah dan sekitarnya. Rumah. Apa yang kalian pikirkan pertama kali tentang rumah? Selonjoran di kamar? Tempat paling idaman? Makan gratis buatan ibu? Kakak-adik? Hewan peliharaan yang sedang menunggu di rumah? Atau bahkan cucian numpuk yang tertinggal di rumah? Rumah bagaikan tempurung yang melindungi manusia dari segala macam ancaman baik dari makhluk hidup atau elemen lain ciptaan Tuhan. Di dalam rumah, kita juga memiliki aturan yang dibentuk sedemikian rupa yang diharapkan agar anggota keluarga tetap menjaga & merawat satu sama lain dan mempertahankan kerukunan antar anggota.

Nah gimana kalau bicara soal bagian lain dari rumah dan isinya?

Ya misalnya saja soal, tetangga, kebersihan warga, interaksi antar tetangga dan tata krama di lingkungan sekitar rumah. Pada tetangga, idealnya kita diharapkan agar selalu menyapa jika bertemu pandang, memberi salam jika bertemu di jalan, dan bersikap sopan saat sedang berbicara. Pada kebersihan, sebagai warga dan masyarakat di suatu komplek perumahan, yang idelanya atas kemauan dan kesadaran masing-masing untuk tetap dan selalu menjaga, merawat, dan mengurus kebersihan rumah dan sekitarnya. Tidak membuang sampah di lingkungan perumahan dan atau di depan rumah warga, tidak menaruh sisa sampah di bak sampah milik orang lain, tidak mencoret tembok, tidak melakukan kegiatan yang menganggu warga (petasan kencang dan membahayakan, atau kegiatan acara musik yang berlangsung terlalu lama), dll.

Begitu juga dengan bagaimana kita berinteraksi dengan warga sekitar dan bagaimana tata krama yang sebagaimana baiknya kita tunjukkan. Semua hal diatas telah kita lakukan mungkin sampai berpuluh-puluh tahun lamanya. Adajuga, yang bahkan tidak mengenal tetangganya dengan baik, selalu bergosip ria dan jarang melakukan kegiatan kerja bakti yang sudah diadakan oleh ketua RT setempat.
Persoalannya gak hanya sampai disitu. Jujur saja, mungkin soal kebersihan lah yang paling sulit diciptakan oleh warganya sendiri. Sebagian sudah menjaga dengan baik kebersihan, dan sebagiannya lagi belum bisa menjaga bagian tersebut. Ini yang membuat gue geram dan sedikit gemas. 

Manusia cenderung impulsif jika tidak berada di dalam “zona”-nya. Contohnya, saat kita bertamu di rumah orang lain, saat meminjam toilet apakah kita akan membersihkan kembali closet yang sudah kita gunakan? Mengeringkan kaki saat mengetahui kaki kita terlalu basah untuk menginjak lantai rumah si penghuni? Oh mungkin Iya dan mungkin juga tidak. Jika di tempat umum? Bukan di mall, atau rumah sakit, misalnya saja di terminal bus, stasiun KRL, atau di tempat peristirahatan tol yang kurang memadai. Apakah kita akan tetap, selalu, pasti menjaga kebersihan? Jika kalian melakukan hal tersebut, gue sangat bersyukur.

Lain halnya jika kita berada di rumah sendiri, semuanya harus dilakukan berdasar kebiasaan yang kemudian terbentuk menjadi aturan kekal di dalam rumah. Begitu juga di lingkungan luar rumah, buang sampah di depan rumah atau halaman orang lain adalah tindakan paling bodoh diantara tindakan lain. Apakah pelajaran yang paling mendasar dan paling umum yang telah diajarkan orang tua pada kita sewaktu umur jagung? Selain tata krama adalah tentu saja kebersihan, kebersihan dan kebersihan.

“Jangan lupa cuci tangan, jangan lupa gosok gigi, mandi dulu baru main, jangan lupa buang SAMPAH di TEMPAT SAMPAH, bersihkan lagi setelah makan ”. dll  

Sayangnya, pelajaran itu tidak dilanjutkan sampai mereka tumbuh dewasa. Atau mungkin, ya memang generasi kita saja yang kurang melek kebersihan lingkungan dibanding melek teknologi.

gifer.com

Orang tua gue, keduanya selalu rewel kalau anak-anaknya jorok dikit, bukan cuma di dalam rumah aja, tapi dimana pun kita berada. Saat dirumah, sampah basah harus dicuci dan dikeringkan terlebih dahulu, apalagi sampah yang mengandung minyak atau gula berlebih, kamar mandi harus selalu digosok setelah selesai mandi, bahkan yang lebih detailnya lagi tidak boleh ada ada tumpahan kuah atau kejatuhan sisa makanan sedikitpun ke meja makan. Apalagi? Kebersihan diluar rumah misalnya, daun-daun di halaman rumah tidak boleh dibiarkan harus langsung disapu, bak sampah diluar juga harus tetap utuh kebersihannya.

Mungkin dari kalian ada yang punya orang tua lebih higenis daripada orang tua gue. Aturan kebersihan rumah yang lebih perfeksionis? Ah gue jadi inget, soal bertamu ke rumah orang lain. Nyokap selalu nyuruh buat “cuci piringnya sehabis makan, atau taruh piringnya di dapur”walaupun kita sedang bertamu. Dan nyokap juga selalu pastiin kalau keadaan rumah yang dikunjungi akan tetap bersih walau kita sedang bertamu. Inilah yang dilakukan nyokap gue terhadap anak-anaknya. Sampai tua, sampai kakak – kakak gue udah pada nikah, persoalan kebersihan tetap jadi hot topic dan selalu di ributin.

Pelajaran ini cukup membekas di dalam diri gue, terutama soal sampah dan kebersihan. Sampah apapun jika di tempat gue sedang berkunjung tidak tersedia tempat sampah, udah jadi kebiasaan kalau gue akan bawa sampah itu sampai menemukan tempat sampah. Malu dan gak punya akhlak. Kedua hal ini yang menggetarkan perasaan gue jika tidak sengaja/sengaja buang sampah sembarangan. Malu dan rasanya seperti gak punya akhlak.

***    


Mau cerita sedikit, tapi ujung-ujungnya malah melebar. Oke deh, segini aja kolom cerita & opini hari ini. Diingat- ingat, kalau kita menjaga kebersihan dan selalu buang sampah pada tempatnya, Rumah, Jakarta .. Indonesia bakalan di kasih hadiah yang lebih indah daripada kemauan kita atas menjaga kebersihan itu sendiri. 

 
google

Read More

Monday, 22 April 2019

Windbreaker! inside the trail


ON REVIEW – WEBCOMICS : WIND BREAKER

Imgrum

Pencipta (Cerita & Gambar) : Yongseok Jo
Waktu rilis : 2014 – Sekarang
Status : On going (Ep.158-English Version)
Genre : Sports, Action, Comedy, School-Friendship
Rating : 9.84/10
Terbit setiap hari Senin di Line Webtoon


Ringkasan:
Jay adalah seorang ketua kelas dari SMA Sunny. Dia bukan hanya seorang siswa yang cerdas,tapi juga pengendara sepeda yang ekstrim dengan teknik yang luar biasa. Ikuti jejaknya dalam sepeda untuk menemukan teman, cinta, dan petualangannya.


***  



-Jay is..he?

Mangahasu


Menambah koleksi ON Review, hari ini saya mau memberi ulasan dari salah satu webcomics favorit saya. Webcomics yang saya mau ulas adalah Wind Breaker yang cerita dan gambarnya dibuat oleh Yongseok Jo, dari Negara ginseng-Korea Selatan.


Menceritakan tentang seseorang bernama Jay, siswa cerdas di sekolahnya dan seorang laki-laki yang menyukai sepeda dengan tekniknya yang luar biasa. Karakter Jay di ilustrasikan dengan karakter yang dingin, cerdas, banyak akal, memiliki selera yang unik, quietly odd, sangat mencintai sepeda dan bersepeda. Dia tidak memiliki banyak teman dan hanya menyukai sepeda. Pada episode awal kita akan langsung disuguhkan dengan aksi bersepeda dengan gaya uniknya dari sosok Jay. Lalu, dipertemukan dengan pertemuan pertamanya dengan seseorang bernama Minwoo biasa dipanggil - Minu, teman satu sekolahnya Jay di SMA Sunny. 

Minu juga menyukai sepeda dan memiliki klub sepeda. Dari pertemuan inilah, Jay menemukan sesuatu seperti takdir dengan sepeda dan kemunculan orang-orang tak diduga yang menuntun jalannya persahabatan yang sebelumnya belum pernah ia alami. 


Deskgram
Pinterest

Pertemuannya dengan Minu, pada Jay yang pendiam dan tidak peduli dengan urusan orang lain, membuatnya terlibat dalam suatu pertandingan yang menyusahkan dirinya. Berujung dengan konflik demi konflik, waktu yang ia habiskan bersama sepedanya tidak hanya untuk seorang diri. Begitulah awal pertemuannya dengan Minu. Apakah jay tidak sengaja menemukan partner sepedanya? Bisakah ia menjadi pribadi yang lebih terbuka pada dunia dan lingkungannya, berkat sepeda? Ini hanya segelintir cerita awalannya, saat kalian membaca episode 1, saya jamin penyuka genre olahraga dan melodrama remaja akan menyukainya.


Setiap akhir episode, kita bakalan di hujani dengan ujung cerita yang mendatangkan keluh penasaran. Tema ceritanya memang fokus pada sepeda dan Jay, tapi sepanjang kita mengikuti alur cerita akan semakin menemukan hal-hal baru disini. Susunan cerita yang rapih, karakter yang unik dan fastgrowing, genre yang berbeda dari genre webcomic yang sering di pasarkan pada halaman awal webcomics, membuat saya ingin terus menggerus cerita Wind breaker. 

Instagram web


Membaca winbreaker, mengingatkan saya pada anime genre sport shounen yang sudah saya tonton seperti haikyuu, KNB, daiya no ace, free! dan one outs. Kecuali, adegan-adegan persoalan konfilk keluarga, pertemanan, kejadian tragis di masa lalu, pengkhianatan, persaingan dan kecurangan, dan sedikit romance yang jarang saya temukan dalam animasi jepang yang tadi saya sebutkan. Unsur di dalam yang selalu membuat saya kagum dan menyukai sports genre adalah trik, aksi dan kenekatan luar biasa gila yang di gambarkan dari karakter di dalam sebuah komik atau animasinya. 


Imgrum
Deskgram










































Terus apa bedanya webcomics Wind breaker dengan komik atau animasi sports genre yang lain?

Tepatnya, tidak ada perbedaan yang signifikan. Karena dalam cerita olahraga selalu ada persoalan A Vs. B,siapa yang akan menang, maka dia / mereka yang terkuat dan terhebat, kemudian trik dan strategi bertanding, dan aturan permainan. Mungkin, perbedaan yang saya dapat dalam webcomics ini dibandingkan dengan cerita sport lainnya adalah, bagian karakter dan konflik setiap karakter. Setiap karakter utama dan karakter pendukung utama lainnya dijelaskan dengan cukup runtun dan jelas bagaimana keterlibatan mereka bersama sepeda dan konflik pribadi yang cukup kompleks membuat cerita semakin menarik dan tidak membosankan. 

Social mate


Beberapa orang berpendapat bahwa unsur utama dalam Windbreaker bukanlah tentang balapan sepeda, melainkan yang cenderung fokus pada unsur melodrama remaja dari konflik dan pembawaan karakter dalam cerita. Judulnya Windbreaker memang cocok dengan gaya bersepeda Jay dan teman-temannya, tetapi juga cocok di labelkan untuk alur cerita dari wind breaker, melodrama yang bombastis dengan perjalanan liar sepedahnya. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari problematika di setiap masing-masing tokoh dan cerita.

Intinya, bukan hanya balapan sepeda, tapi bagaimana cerita yang di kemas secara mendalam berlalu sepanjang petualangan dalam bersepeda.

Well. Segitu aja. Saya memberi rating 4.8 dari 5 bintang. Dari sudut pandang pribadi, cerita Wind breaker cocok dengan selera saya. Cerita nya tidak bertele-tele dan karakter tokohnya yang unik ,menarik untuk dinikmati. Bagi kalian yang sangat suka dengan cerita bertema olahraga, action-comedy dan terdapat unsur melodrama, Wind breaker menjadi salah satu pilihan yang tepat diantara yang lain. It seems I’d like to hope that Windbreaker would becoming into Animation series, because this is the best one I ever read on webtoon collection sports genre story.  Oh, ya webtoon ini masih on going, jadi ikutin terus kelanjutan cerita dari Jay dkk dalam Wind Breaker!

Read More

Monday, 15 April 2019

Taking off days : decluttering


Family circle


Budaya rapi-rapi mungkin memang sudah tertanam di dalam lingkungan keluarga gue, terutama kedua orang tua yang selalu memberikan nasihat “bersihkan dulu, rapihkan dulu biar enak dilihat dan agama selalu menuntun kita untuk selalu setia pada kebersihan dan kerapihan”

Marie kondo yang saat ini sangat terkenal dengan metode budaya decluttering - nya yang ternyata dipengaruhi oleh aliran kepercayaan masyarakat asli Jepang, yaitu Shintoism. Kondo menyatakan bahwa di dalam Shintoism dan kuilnya, kerapihan dan kebersihan berhubungan dengan penanaman mental dan pelatihan spiritual. Begitu juga dengan Islam, sejak kecil kita sudah diajarkan tentang yang namanya kebersihan dan kerapihan.

“Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan (termasuk kebersihan dan kerapihan)” – HR. Muslim No.91


***

Ngomong-ngomong soal kerapihan dan kebersihan. 2 hari yang lalu gue baru aja bersih-bersih barang yang ada di kamar dan meja kerja yang semestinya sudah harus dibersihkan dan diurus sejak lama. Cuman, gue si manusia penunda ini lebih memilih rasa malasnya daripada melawan malas. Dan akhirnya, hari sabtu kemarin semua kegiatan yang tertunda telah gue tuntaskan. 

Di bulan lalu, gue nyicil beresin meja kerja, semua buku-buku yang udah jarang di baca gue angkut ke dalam box penyimpanan, supaya meja gue keliatan lebih luas dan bersih, karena keadaan sebelumnya bener-bener gak bisa di gambarkan dengan kata-kata, terlalu banyak buku dan kertas berserakan. Hal ini yang membuat gue kurang nyaman dan pikiran jadi sumpek kalau ngeliat meja kerja yang bertumpuk kertas bekas dan buku-buku lama.

Berlanjut ke 2 hari yang lalu, keadaan lemari baju dan 2 lemari lainnya beneran urgent untuk di beresin. Alhasil, baju yang berhasil gue declutter banyak sekali! Semua dimuat kedalam kantong IKEA ukuran paling besar. 

unniandevans



pikbee.one


Disini gue juga mencoba mempraktikkan apa yang dilakukan Marie Kondo dalam caranya melipat pakaian dan barang-barang kecil seperti (scarf, kerudung, kaos kaki, dll) di dalam laci. Gayanya merapihkan barang memang tidak heran kalau mendapat banyak pujian dan tidak sedikit orang yang mengikuti caranya menata dan merapihkan barang menggunakan cara Kondo. Sederhana dan praktis.

Soal baju yang digantung dalam lemari adalah persoalan utama yang menjadi musuh terberat gue. Gue pribadi, memang segan untuk menyimpan baju / menerima baju bekas pakai dari kakak atau ibu atau yang lain. Bukan karena alasan “bekas pakai”, tapi terlebih karena malas menumpuk baju di lemari, terutama baju yang harus di gantung. Setelah membuang dan memisahkan baju mana yang masih layak diberi dan tidak, rasanya lebih plong dan puas karena selain membereskan, gue berhasil melawan penundaan yang sering muncul saat ingin membenahi penumpukan barang-barang.


2 kesimpulan yang bisa gue dapatkan setelah berberes dan bersih-bersih adalah


Timbul kenyamanan

Kenyamanan didapat setelah kita membereskan barang – barang yang sudah dipakai dan tidak terpakai. Menyortir dan membuang mungkin adalah dua hal yang berbeda. Saat memilah-milih dan membereskan barang, kita cenderung berpikir apakah barang itu akan lebih dari sekedar bermanfaat jika di simpan lebih lama? Dan membuang adalah barang yang di dalam pikiran sudah tidak akan terpakai kembali. Menyisihkan dengan barang yang nyaman dan bermanfaat nilainya akan timbul efek kenyamanan yang berbeda saat kita memakai dan berada bersama barang-barang tersebut di dalam rumah kita.


Jangan berpikir 2 kali

Percayalah, terutama kaum perempuan. Saat kalian menyisihkan dan memilih barang tidak terpakai (baju, sepatu ,tas, aksesoris, dll) jangan pernah berpikir terlalu lama untuk apakah tetap di pertahankan atau di eliminasi. Jika kalian memiliki pemikiran seperti itu, cepatlah alihkan dengan; bahwa menyimpan berarti hanyalah menumpuk kembali yang kemudian harus dibuang atau di donasikan agar tidak ada penimbunan yang tidak bermanfaat.  Menyimpan kembali adalah jebakan.  Impuls yang seringkali timbul saat kita merapihkan barang. Sangat membuang-buang waktu, semakin lama kita berpikir akan semakin tinggi keinginan menyimpan kembali barang yang sebenarnya tidak bermanfaat jika disimpan lebih lama lagi.         



Yap. Singkat saja, pengalaman kecil seperti ini biasanya akan lebih terasa dampaknya terhadap diri dan di dalam keseharian manusia. Terasa lebih sehat , dan bersahabat. Akan lebih terasa lagi jika saat akan membeli barang hendaknya di proses kembali, apakah memang benar-benar membutuhkannya? Atau hanya hasrat sesaat? Jika memang ada pemikiran “siapa tahu di waktu yang akan datang barang ini akan dibutuhkan”. Apa yang harus dilakukan? Proseslah kembali, pikirkanlah kembali, bahwa hal seperti itu hanya jebakan yang dibuat oleh kita sendiri.

Read More

Wednesday, 10 April 2019

SHERLOCK HOLMES SERIES


ON REVIEW – NOVEL : SHERLOCK SERIES



Penulis : Sir Arthur Conan Doyle
Penerbit : Shira Media
Tokoh :    Sherlock Holmes
                John Watson



Kau tak pernah sadar bahwa hal-hal yang paling rumit biasanya sangat bergantung pada hal-hal yang paling sepele (The Adventure of Creeping Man)



***


Hai April!

How you guys doing? Saya harap kabar hari ini di kelilingi dengan orang-orang terbaik. Well, hari ini saya akan bercerita dan memberi sedikit ulasan tentang Sherlock Holmes Series, walaupun udah agak basi tapi gapapa. Saya tidak memberikan ulasan dari setiap novelnya, saya akan membahas secara merata. 

Sherlock Holmes? Penggemar petualang detektif pasti sudah sangat kenal dengan nama ini. Detektif yang terkenal dengan otak cemerlang dan sikapnya yang dingin, cekatan dan tegas membawa banyak penggemar berbondong-bondong untuk membaca dan menonton petualangan Sherlock Holmes. Dalam 4 buku ini saya telah banyak disuguhkan dengan cerita di luar ekspektasi, adegan cemerlang, dan karakter duo combi sobat baik yaitu Mr. Sherlock Holmes dan Dr. John Watson yang selalu berhasil membuat saya gemas dan kagum atas sifat dan tingkah mereka.

Dari 4 buku series petualangan Sherlock Holmes diatas sebetulnya masih ada yang belum sempat saya baca dan belum di beli. Urutan series bukunya adalah ; A study in Scarlet, The Sign of Four, The Adventures of Sherlock Holmes, The Memoirs of Sherlock Holmes, The Hound of the Baskervilles, The Return of the Sherlock Holmes, The Valley of Fear, His last Bow, dan The Cast Book of Sherlock Holmes. Beberapa yang sudah saya baca, gak ada yang bikin saya kecewa dengan ceritanya. Semua sesuai dengan apa yang selama ini saya cari dari petualang seorang detektif. Yah, walaupun tidak bisa di sangkal bahwa Sherlock juga pernah melakukan kesalahan dan mengalami kekeliruan terhadap hasil deduksinya.  

Sir Arthur Conan Doyle dengan begitu apik, lugas dan cemerlang mengagambarkan tiap kasus dan karakter masing-masing tokoh yang ada. Cerita yang paling saya ingat diantaranya adalah Ilmu Pengetahuan Deduksi dari series The Sign of Four. 


Sederhana, cerita ini menjabarkan bagaimana Sherlock dan Watson sedang berbincang atau bahkan berdebat mengenai suatu hal dan pengalaman hidup mereka selama menjadi rekan detektif swasta yang amatir. Dengan deduksi Sherlock, seringkali Watson dibuat kesal dan jengkel olehnya. Kemampuannya terhadap segala sesuatu terlalu sempurna yang dapat menggiring Watson pada jangkauan akal diluar batasannya. Watson terlalu kagum bahkan kehilangan keberanian untuk menentangnya.

Bukan hanya karena lontaran deduksi yang membuatnya terlihat cerdas, tapi sikap tegas, kemampuan observasi dan jangkauan pengetahuannya terhadap berbagai ilmu pengetahuan membuat otaknya terus ingin bekerja dan bekerja.  Ini kalimat favorit saya ketika Sherlock berbincang soal fakta dan pemikirannya.

“Beberapa fakta seharusnya ditekan, atau paling tidak harus lebih proporsional dalam penyajiannya. Satu-satunya masalah yang layak disinggung-singgung dari kasus itu hanyalah pemikiran analitis dari pengaruh ke penyebab, dengan mana aku berhasil mengungkap kasusnya”.


Surai Singa dari series The Case Book of Sherlock Holmes juga menyita perhatian saya. 


Kasus ini ditulis sendiri oleh Sherlock dan juga di tangani sendiri tanpa rekan kesayangannya, yaitu Watson. Alasan inilah yang juga membuat saya tertarik saat membaca cerita Surai singa. Kasusnya mengungkapkan bagaimana kasus seorang guru, Fitzroy McPherson mati di depan mata Sherlock dengan kondisi punggung yang penuh guratan merah, wajah yang tampak sangat kesakitan akibat menahan penganiayaan yang hebat.. Surai Singa, kasus yang unik dan membuat kalian bertanya-tanya apa yang menyebabkan orang-orang ini mati di mana benang petunjuk malah beralih dari tersangka. Ini bukan kasus biasa, bahkan Sherlock memang harus nekat untuk mendekati pelaku maut di Pantai.


Kemudian juga ada, Petualangan Detektif yang Sekarat dari series His Last Bow. 


Cerita yang juga membawa saya kedalam bawah sadar bahwa saya mengira cerita ini adalah cerita akhir dan berakhir dengan kematian Sherlock (bahwa saya tahu Sherlock itu hanya fiksi). Kali ini adalah sebuah kasus yang ditangani Sherlock dalam keadaan terbaring sakit di tempat tidurnya selama 3 hari tanpa makan dan minum. Apakah yang sedang di tangani dan di bongkar oleh Sherlock, dan belum lagi dari sikapnya yang dingin terhadap rekannya, membuat Watson semakin khawatir dan penasaran atas apa yang sedang direncanakan sobat eksentriknya itu.  

Lagi, saya tidak mau terlalu kagum dengan tokoh fiksi, tapi kali ini saya sepertinya sudah dibius oleh karakter Sherlock. TV series Sherlock Holmes yang diusung oleh BBC juga sudah saya babat habis dan berulang kali saya tonton, karena terlalu sayang kalau saya hanya membaca bukunya saja. Karakter Watson, rekannya yang sangat berbeda dari Sherlock memberikan penyegaran dari karakternya yang kaku dan terkesan cuek.

Belum lagi, sang penulis. Kita tidak boleh melupakan beliau yang telah menyediakan waktunya untuk membuat karakter fiksi yang terinspirasi dari Dosennya sendiri. Sir Arthur Conan, gaya penulisan yang cakap, lugas dan detail membuat saya betah untuk membaca Sherlock Holmes. Selain itu, yang saya sukai dari cerita Conan Doyle (SH) adalah bagaimana cara dan metode penyelesaian Sherlock. Saya menjulukinya sebagai tupai, Sherlock yang lincah dengan segudang ide liar dan gilanya dikala menyelesaikan kasus. 

Gemar kesana kemari dalam mencari bukti, pergi ke TKP, mendatangi rumah-rumah saksi dari peristiwa, melakukan penyamaran, bepergian jauh untuk meneliti kasus yang ditangani, dan lain-lain. Sangat menjiwai dalam peran untuk seorang detektif. Karakternya yang terus terang, arogan, dan penggambaran fisik nya yang sangat saya sukai. Ya, dari itu semua saya juga pernah membaca karya detektif lainnya, dan tidak mengerti saya tetap menyukai karakter Sherlock Holmes.


***


Segitu  dulu Review  dan ulasan ceritanya. Untuk cover buku saya menyukai warna sampul dan pemilihan design cover buku yang terkesan simpel namun tetap terlihat misterius, kemudian terjemahannya yang mudah di tangkap dan dicerna. Over all, bagi pemula yang berkeinginan untuk membaca cerita detektif, bukan pilihan yang keliru kalau memulainya dari fiksi series Sherlock Holmes yang diterbitkan oleh Shira Media. 






Picture by: author rekamairan
Read More