Booksmovies of The Month: Chapter 9

 


Wah udah bulan Juli, BMOTM chapter 9 sedikit terlambat, ini akibat bulan Juni kemarin lagi ribet dan repot jaga ponakan. Karena untuk menulis segmen Booksmovies harus ada waktu khusus. Gimana bisa nulis sambil denger teriakan ponakan yang asik main kejar-kejaran di dalem rumah? *banyak alasan* 


Seperti pada chapter sebelumnya, mulai dari bulan April lalu Booksmovies of the month hanya akan menuliskan beberapa buku dan film pilihan yang Reka nikmati selama sebulan penuh. Jadi Reka pikir supaya satu chapter gak terlalu panjang maka gak dibahas semua, takutnya yang baca pada jenuh kikikiki. 


Oiya ada beberapa perubahan juga dalam format BMOTM, hanya sedikit, supaya gak mudah bosan *ini mah penulisnya yang cepet bosan* Yasudah kalau begitu mari dimulai saja..


Buku - Fiksi & Nonfiksi:

And Then There Were None (highly recommanded!)

Olenka (kurang paham tapi suka)

Happiness is Homemade (lumayan juga)

We Have Always Lived in the Castle (no komen)

Second Sister (baca sekarang! πŸ˜†)


And Then There Were None oleh Agatha Christie

Akhirnya selesai juga baca buku ini setelah lama nongkrong di kolom TBR. Sebelum membaca buku ATTWN Reka lebih dulu menonton seriesnya pada bulan April kemarin. Kedua versi punya sensasi thrilling yang mencekam dan Reka sangat menyukai kedua-duanya! 


Sekian lama gak baca bukunya Agatha, Reka kembali dibikin mikir dengan cerita misteri khas Agatha christie. Buku ini menggunakan konsep whodunit, seperti pada umumnya cerita misteri detektif yang mengungkap siapa pelaku atas peristiwa pembunuhan. Disusun dengan plot yang rapih, Agatha berhasil membangkitkan arena mencekam secara perlahan lahan, sampai Reka gak sadar bukunya hampir habis dalam sekali duduk. 


Olenka oleh Budi Darma

Cukup lama gak baca buku absurd akhirnya Reka bertemu dengan Olenka. Kalo boleh jujur Reka gak begitu paham apa yang sebetulnya ingin disampaikan penulis dalam buku ini. Kisah mereka berdua sedikit misterius bahkan aneh. Sebab beberapa kali penulis menaburkan peribahasa yang sulit Reka cerna ketika membaca buku sejenis Olenka. 


Satu yang bisa Reka pahami adalah bahwa Fanton Drummond terobsesi pada sosok Olenka. Baginya, Olenka adalah wanita sempurna yang bisa ia miliki selama hidupnya, namun dilema terjadi saat ia tahu bahwa Olenka telah menikah. Selama Fanton mengaggumi Olenka, selama itu pula ia mengalami kebimbangan hidup, penuh ketidakpastian atas penemuan jati dirinya. 


Lika liku perkara yang dihadapi para tokoh disini cukup rumit. Kita sebagai pembaca diajak untuk masuk kedalam isi pemikiran Fanton terhadap eksistensinya. Pemikiran yang kadang absurd, namun Reka pikir itu realistis sebagaimana sebuah monolog seorang manusia yang tidak bisa diketahui dan pahami persis oleh sesama-nya. 


Second Sister oleh Chan Ho Kei

Lewat buku ini Reka banyak diperkenalkan dengan “nakalnya” dunia daring. Seperti yang kita lihat dalam kisah yang dituturkan oleh penulis. Second sister berusaha mengungkap kebenaran atas kasus kematian bunuh diri yang terjadi pada Siu Man, adik dari Nga Yee. Kematiannya bukan terjadi tanpa sebab karena sang kakak tidak percaya begitu saja terhadap fakta yang ada. Akibatnya Nga Yee berusaha keras sendirian untuk mencari kebenaran dan berakhir dengan meminta bantuan pada seorang peretas handal. Dari sinilah kisah “nakalnya” dunia daring dimulai. 

Banyak topik yang bisa diulik dari buku ini, mulai dari bullying, cyber crime, pelecehan seksual dan kesehatan mental. Sebagai pembaca, penulis sangat berhasil dalam mengemas karakterisasi di setiap tokoh yang hadir. Dari yang keren banget sampai yang bikin jengkel abissss.


Reka gak keberatan memberi 5/5⭐️untuk buku ini. Kalau kamu pecinta genre misteri-kriminal dengan nuansa modern, novel Second sister wajib dibaca! 


Buku lainnya >>

We Have Always Lived in the Castle oleh Shirley Jackson 


Happiness is Homemade oleh Puty Puar



Film:

Ocean Waves | 1993 (coba deh anak2 ABG nonton ini)

We Have Always Lived in the Castle | 2018 (rasanya ingin banting barang)

Kim Jiyoung born: 1982 | 2019 (ku menangiss)

Tokyo Godfathers | 2003 (Tonton sekarang juga! :D)


Tokyo godfathers

Film penutup yang Reka tonton di akhir bulan Mei. Melanjutkan rasa penasaran terhadap karya-karya autentik sutradara Satoshi Kon. Tokyo godfathers menawarkan cerita yang membuat Reka teringat dengan film jepang berjudul Shoplifters. Tapi tidak secara spesifik mirip sih. Nuansa yang dibangun berbeda namun nasib malang dari kedua tokoh film hampir sama. 

Melalui film ini setidaknya Reka dapat melihat kerasnya perjuangan hidup Miyuki dkk sebagai tunawisma yang mesti susah payah untuk mempertahankan hidup. Jika dilihat dari premis yang disajikan umumnya film terkait akan memberikan kesan melankolis. Tapi tidak... justru sebaliknya, Satoshi membalut cerita melalui 3 tokoh utama yang sangat menyenangkan.


Di malam natal, tidak sengaja mereka menemukan seorang bayi di tempat pembuangan sampah. Kisah mereka berempat dimulai dari sini. Mereka berniat untuk mencari orang tua kandung dari bayi tersebut, selama pencarian mereka bertemu dengan rahasia pribadi yang disimpan masing-masing. Seolah Kiyoko (nama bayinya)  menjadi penuntun nasib ketiga-nya. Perlahan, masalah mereka dipaparkan dengan jelas, dan mau tidak mau mereka harus menghadapinya sekali lagi dan terus melanjutkan hidup walau pernah mengalami peristiwa pahit di masa lalu.


Disampaikan lewat dialog yang menghibur, berbaur dengan animasi lawas, sekali lagi Satoshi berhasil membuat Reka merenung setelah menyelesaikan karyanya. Tragedi, mungkin saja memang beliau gemar mengusung cerita lewat sebuah tragedi. 


γ…Žγ…Ž


Sekian BMOTM bulan Mei. Rangkuman untuk bulan Juni secepatnya akan Reka terbitkan yang entah kapan itu hari “secepatnya”πŸ˜…




*Info lanjut tentang perjalanan Reka bersama buku-buku bacaannya? Kunjungi langsung akun Goodreads dan The Story Graph dengan username @haloreka :)




sumber gambar & sinopsis: wikipedia-google & storygraph

Comments

  1. aku tiap baca buku agatha kayak mo nyerah aja, mungkin pas liat ketebalan bukunya udah mikir sanggup berapa lama ini nuntasinnya. padahal dulu temen temenku dikit dikit pasti ngomongin agatha dan aku kayak nol gitu :D

    tokyo godfathers ini sepertinya menarik, lama juga ngga pernah nonton film dari negara sakura

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kak Aii sebetulnya buku-buku Agatha tergolong gak terlalu tebal sih untuk ukuran buku misteri hehehe. Coba deh baca ATTWN ini, aku rasa untuk orang yang gak suka misteri setelah baca ini bisa jadi suka πŸ˜†

      Delete
  2. *mengingat-ingat pernah baca bukunya Agatha Christie ga ya XD*

    Jadi tertarik nonton Tokyo Godfathers. Baru nyadar belum pernah nonton karyanya Kon sensei. Kayaknya aku selama ini nonton film anime banyakan punya Makoto Shinkai. Bahkan Ghibli pun jarang. Mungkin karena menurutku karya2 Makoto Shinkai yang visualnya paling mendekati realita.

    Kalau Kon-sensei ini gimana, mba Reka? lebih dekat ke Makoto Shinkai atau Ghibli kah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmm kalau Your name itu termasuk Makoto Shinkai ya kak? Memanjakan mata ya kak visualnya πŸ˜†Ghibli kayaknya dari yang suka jejepangan sampe yg gak begitu suka pernah nonton ya hehe

      Hmm kalo Kon sensei dari segi cerita lebih terkesan dark dan gloomy kak..biasanya cerita berakhir dengan tragedi atau disebabkan oleh sebuah tragedi. Tapi ini sejauh dari yg aku tau aja sih haha. Kalo dari visual beda bangett mungkin lebih mirip ke Ghibli ya.

      Delete
  3. YES untuk Second Sister!! Bukunya emang sebagus itu dan page-turner banget 🀣. Ayo teman-teman baca Second Sister! Wkwkwk
    And Then There Were None juga bagusss! Kebiasaan dari novel AC yang agak menyulitkanku adalah kita disodorin begitu banyak tokoh dari halaman pertama, itu rasanya pusing banget pas awal-awal buat ngafalin nama-nama tokohnya 🀣🀣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayok dibaca dibaca jamin gak nyesel deh wkwkk, walaupun halaman banyak tapi gak kerasa ya Lii tanpa sadar udah tamat aja.

      Hmm bener nih,aku bahkan suka bikin catatan sendiri biar inget sama nama2 tokohnyaπŸ˜†

      Delete
  4. Wihiiiww booksmovie udah keluar.. πŸ˜„ seperti biasa rekomendasi Mba Reka tidak pernah mengecewakan.. hehe Let me see..
    Highly recommendednya Agatha Christie ya? Pernah dnger nama ini. Kayany Lia pernah mention ini. Bentar tak lihat catatanku dulu. Hahah. Judulnya The Murder on the Orient Expresss.. menurut mba reka yg enak mana dlu nih.. heheh. Mengingat komenan Lia diatas bilang kalau buku AC banyak nyodorin banyak tokoh di halaman awal. Hahah πŸ˜…πŸ˜…

    ReplyDelete
    Replies
    1. Second sister juga bagus banget Bay! Dua novel ini yg aku sarankan untuk coba banget dibaca hehehe.

      Oh murder orient juga seru..hm sebenernya mulai dari mana aja juga bisa sih soalnya bagus dua2nya, tapi kalo untukku pribadi ATTWN lebih tegang karena gak ada kehadiran detektifnya Agatha, jadi para tokoh harus menyelesaikan kasusnya sendiri πŸ˜†

      Delete
  5. Yeaaayy segmen bookmovies sudah tiba!! *dugundugundugun*πŸ₯πŸ₯πŸ₯πŸ₯

    Di luar dugaan, sebetulnya agak kecewa karena tulisannya nggak sepanjang sebelumnya hahaha, tapi nggak apa², jadi lebih penasaran juga sama judul-judul buku dan film yang Kak Reka cantumin di atasπŸ˜†

    Paling penasaran sama film Tokyo Godfathers (kalau buku mah skip dulu deh karena aku masih belum sanggup bacanya haha), dan We Have Lived in the Castle, itu bikin pingin banting barangnya dalam konotasi negatif atau positif nih kak? Hahahaha takutnya entar pas nonton malah zonk juga. Bukannya mau banting barang, malah pingin bakar rumahπŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Awl....lebih suka tulisan panjang lebar kah? Hahaha soalnya suka ngerasa “kok gue nulis kayak kepanjangan banget” jadi lah aku pendekkin, ini aku coba bahas yang bener-bener berkesan aja sih Awl. Atau kalau Awl ada saran lain boleh disampein kok 😁

      Hahaha! Negatif Awl....gak paham aku maksudnya tuh apa tapi setelah baca beberapa ulasan orang, oke aku mulai mengerti. Mau coba nonton We Have always kah? Semisal jadi nonton boleh sharing pendapat Awl disiniii 😁

      Delete
  6. Penasaran sama Second Sister!!! Karena memang rame banget yang baca. Apalagi baru-baru ini ada booktuber yang diskusi soal buku ini. Katanya pas baca sampe nggak bisa berhenti. Sebenarnya bisa baca di gramdig, tapi ya gitulah... kalo buku2 tebal di atas 500 halaman rasanya mau punya bukunya aja. Tapi masalah lainnya adalah: uang XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu yang aku rasakan selama baca buku ini Mitt..gak mau berhenti, emang ngalir banget ceritanya, runut, mulai dari A-Z, gak bertele-tele dan karakter yang namanya N itu sangat menarik! Kayaknya kamu bakalan suka deh Mitt😁

      Delete
  7. Pas nemu ATTWN di iPusnas udah kesenangan, eh tapi harus queue. Yasalammm, mendingan aku baca yang lain dulu πŸ˜‚ Terus udah download Second Sister di GD nihhh. Nggak sabar mau baca jugak. Rekomendasi thriller-nya kamu nggak pernah gagal di aku πŸ˜†

    Btw, gimana menurutmu tentang film Kim Ji Young, Nis? Aku selalu dengar pendapat dari kalangan buibuk, pengen tau aja kalau dari yg belum menikah punya pandangan apa πŸ˜‰

    ReplyDelete
    Replies
    1. ATTWN ada di gramdig juga loh Kak Janeee. Koleksi bukunya agatha disana juga banyak hihihi. Yuk yuk baca Second sister ini luar biasa abis itu baca ATTWN deh kak wkwkw πŸ‘πŸ»πŸ˜†

      Kim Jiyoung sedih banget kak..budaya patriarki disana kayaknya emang masih kental banget. Dan lewat film ini keliatan juga dari sisi Ayahnya Jiyoung yg sepertinya masih memandang hal itu. Lepas dari itu juga aku miris ngeliat Jiyoung, dia punya cita2 tapi disisi lain harus ngurus anak,suami,rumah sendirian,dia kayak gak mau ngecewain keluarganya gitu loh kak,serba salah, sampe depresi juga kalo gak salah ya? Duh merana liat nya..itu masih untung dia bertahan dan punya ibu yng peduli banget sama dia ;3. Dukungan keluarga memang ampuh πŸ‘πŸ»

      Delete
  8. Novel Agatha Christie And Then There Were None ini saya punya yang versi bahasa Indonesianya tapi belum selesai dibaca padahal buku itu udah lama saya punya.

    ReplyDelete
  9. Yang kutahu baru And There Were None. Filmnya lumaysn juga. Diantara karya AC ini yang the best. Selain Curtain

    ReplyDelete

Post a Comment