Buku dan Perjumpaan Pertama

Perhatian... Kiriman tulisan ini akan menjadi cerita yang cukup panjang, bukan tulisan berisi fiksi. Saya disini mau membahas ketiga penulis Jepang yang belakangan ini namanya selalu lewat dan hadir di hadapan saya. Sempat bingung mau kasih judul apa, intinya Reka sekedar ingin berbagi cerita tentang pengalaman pertama kalinya saya membaca buku yang ditulis oleh ketiga penulis yang akan saya bahas dibawah ini 👀

 

pexels.com


Keigo Higashino

Penggemar literasi misteri Asia pasti sudah gak asing dengan nama Keigo Higashino. Keigo Higashino yang namanya kemudian melejit setelah menerbitkan novel berjudul Devotion of Suspect X. Kemunculan novel ini di Indonesia memang tidak langsung heboh dan menggemparkan, entah persisnya kapan dan mengapa, tiba-tiba saja buku tersebut menjadi primadona diantara para pemburu buku. Saya sendiri sudah membaca Devotion of Suspect X pada tahun 2019 silam. 


Ceritanya begini, waktu itu saya lagi iseng baca artikel tentang buku-buku yang sempat dibaca oleh idol kpop. Saya selalu kepo dengan daftar bacaan para selebriti, biasanya tuh mereka baca buku apa sih. Setelah melihat satu artikel, saya menemukan satu buku yang menarik perhatian. Personil grup EXO menyebutkan novel Devotion of Suspect X sebagai buku yang ia rekomendasikan pada khalayak. Saya baca deh tuh sinopsis singkatnya, dan cari tau seperti apa kesan pembaca yang sudah menamatkan buku ini. Saya gak tau kalau ternyata novelnya telah diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia, dan alhamdulillah sekali buku ini tersedia di iPusnas! Apalagi kan genre novelnya misteri kriminal, genre favorit saya, mana bisa saya menahan untuk tidak membaca novelnya ðŸ˜

 

Saya mau mengucapkan terima kasih banyak kepada iPusnas yang sudah memasukkan novel Devotion of Suspect X ke dalam koleksi buku digital. Rasa senang saya saat itu tidak dapat terbendung lagi, mau gimana cara menggambarkannya pokoknya saya seneng banget bisa langsung baca saat itu juga tanpa perlu mengantre lama! hahaha. Ingat, waktu itu novel beliau belum banyak di kenal dan diketahui oleh pembaca fiksi di Indonesia, saya bisa baca dengan tenang tanpa perlu rebutan. 

 

Ekspektasi awal saya terhadap buku ini memang cukup tinggi mengingat premis ceritanya sangat menarik bagi saya pribadi - sesuatu yang berbeda. Seorang matematikawan rela menutupi fakta pembunuhan yang terjadi pada tetangganya dengan cara menawarkan bantuan untuk menyembunyikan mayat tersebut (bukan spoiler). Lantas untuk apa ia sampai rela berbuat seperti itu? Pembaca sudah diberitahu lebih dulu siapa pelaku pembunuhan dan disuruh menebak apa alasan dibalik tindakan yang dilakukan oleh matematikawan. Adakah motif terselubung yang ia sembunyikan?

 

Pertanyaan ini yang membuat kepala saya menari-nari gembira akibat rasa penasaran, saya bahkan masih ingat antusiasme saya selama membaca buku ini sangat tinggi, kayaknya terlalu senang seperti saat Sherlock mendapat kasus baru yang sulit terpecahkan. euuuh dengan hanya mengingat ceritanya aja udah seru banget.

 

Hingga sampai pada saat saya menamatkan bukunya, harapan-harapan saya pada buku ini cukup terjawab tapi saya dibikin bengong setelah baca keseluruhan cerita dan akhir dari nasib si matematikawan. Saya sampe bingung harus berkomentar apa, kok bisa ada novel misteri bentuknya kayak gini, ini thriller? Kok bisa sih si DIA sampai rela berkorban untuk melakukan hal demikian? apakah ada orang seperti itu di kehidupan nyata? Gak ada momen yang bikin saya ngeri atau tegang sama sekali, cuman saya ngerasa miris banget dengan nasib akhir dari si tokoh utamanya.


Kasihan tapi kok ya aneh juga sampai rela berbuat seperti itu demi......kesetiannya. Ternyata memang sesuai dengan judul terjemahan pada buku ini yang berbunyi Kesetiaan Mr. X

 

Manusia itu makhluk rumit yang sering melakukan hal-hal bertentangan. Bisa saja beberapa saat sebelumnya dia berniat mengadakan pesta atau memesan tempat di restoran, tapi jika dia ingin mati, maka dia akan mati. - Kusanagi (soAs)

 

Saya kagum dengan penulis, beliau menawarkan format lain dari buku bergenre misteri. Varian baru yang belum pernah saya dapatkan sebelumnya. Twist dalam buku rasanya biasa aja, justru yang bikin saya kaget dan gemas setelah tau alasan / motif matematikawan melakukan tindakan nekat tersebut. Saya juga terpana dengan cara penulis meramu kisah detektif dalam menyelesaikan kasusnya. Kisah yang dipadukan bersama dengan sentuhan melodrama namun aura misteri tetap melekat sampai ceritanya berakhir. Begitu lembut, cara yang halus dan tiba-tiba semua rahasianya terbongkar satu demi satu! 

 

Prof. Yukawa memang cool abiss 😎, saya menobatkan novel ini menjadi salah satu novel yang gak ragu saya kasih 5 bintang. 

 

Kekepoan saya atas karya beliau kian berlanjut, efek yang dirasakan setelah membaca Devotion of Suspect ternyata masih sangat terasa dan membuat saya ketagihan untuk membaca karya Keigo sensei lainnya. Kemudian hari mulailah saya berharap agar buku-bukunya yang lain diterbitkan ke dalam bahasa indonesia. Sekitar kurang lebih setahun kemudian kabar baik datang. Ada dua buku beliau yang akan terbit di tahun 2020. Rasa senang dan gembira tak bisa saya tahan, tumpah ruah begitu saja. Memang sebegitu suka-nya saya terhadap tulisan beliau. 

 

Kenapa saya menyukai buku-buku Keigo Higashino? 

 

Diantara buku yang sudah diterjemahkan (total 5 buku) saya sudah membaca 4 bukunya dan sisa 1 buku yang belum saya baca. Saya kira beliau gak akan menulis buku yang bersentuhan dengan genre slice of life - drama atau bahkan fantasy. Ternyata dugaan saya keliru, Kelontong namiya adalah salah satu buku yang menjadi pembeda diantara karya-karya beliau. 

 

Terus kenapa saya suka banget dengan novel-novelnya? Saya jatuh cinta dengan gaya bertutur Keigo yang ringan dan hangat. Berasa lagi dengerin guru bercerita di dalam kelas. Saya ngerasa kalo Keigo ini dulunya seorang guru wkwkwk. Memiliki sentuhan lain yang membuat saya betah berlama-lama membaca tulisannya. Nuansa berbeda yang gak pernah saya temui dalam novel misteri lain yang pernah saya baca. 

 

Selain itu ada satu alasan utama yang menjadi penentu kenapa saya menyukai karya beliau. Kehadiran semua tokoh detektif yang ada, detektif Galileo, detektif Kaga dan Kusanagi. Biasanya kan Detektif itu identik dengan cirinya yang eksentrik, galak, aneh atau nyebelin. Berbeda dengan Keigo sensei yang menggambarkan semua detektifnya dengan sifat ramah dan hangat. Sehingga saya merasa nyaman saat mengikuti perjalanan mereka dalam menyelidiki sebuah kasus. Ada kesan bersahabat dan rendah hati, mereka cerdas namun tidak mengintimidasi. Caranya halus tapi mampu menekan mental para pelaku kejahatan. 

 

Aku tahu di dunia ini kadang kita harus menerima fakta yang tidak ingin kita percayai

 

Buku ini sudah diadaptasi ke dalam film, Korea dan Jepang. Saya sempat menonton versi Jepangnya tapi terhenti di bagian tengah, saya ngerasa feel nya kurang dapet. Entah apakah versi Korea lebih greget atau tidak, mungkin di lain waku saya akan coba menontonnya.

 

Haruki Murakami

Siapa yang belum familiar dengan nama Haruki Murakami ? Setidaknya “pernah mendengar” di suatu tempat mungkin? Ya, nama beliau saat ini begitu populer bahkan sangat populer di Indonesia. Saya gak tahu kenapa banyak orang yang menyukai karya beliau meski novel-novelnya terbilang absurd dan rumit untuk bisa dipahami secara instan. Itu pendapat saya, entah bagaimana denganmu atau pembaca lain yang sudah lama mengangguminya. 

 

Saya sendiri sempat tergoda, dan termakan godaan tersebut. Suatu hari saya lagi keliling melihat-lihat koleksi buku yang ada di Gramedia. Kayaknya sih di tahun 2018. Gak sengaja melihat buku berjudul Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya bersama sederet buku lainnya. Saya tuh suka kalo ngeliat judul buku yang bikin saya meringis penasaran, ada sensasi magis yang gak bisa saya jelaskan ketika melihat judul buku seperti ini. Terlebih, pada waktu itu saya sedang ada di fase jenuh dengan novel kriminal dan pembunuhan. Pengin cari sesuatu yang segar dan baru. Alhasil, bertemulah saya dengan buku ini, saya langsung naksir setelah baca sinopsisnya. Tepatnya langsung termakan umpan kalimat yang tercantum pada blurb buku; 

 

Suatu hari teman-teman Tsukuru mengabarkan bahwa mereka tidak mau bertemu lagi dengannya ataupun berbicara dengannya, selama-lamanya.

 

Sejak hari itu dia terapung-apung antara hidup dan mati, tidak mampu berteman dengan seorang pun. Tetapi, dia lalu bertemu Sara, yang menyadarkan bahwa kini sudah waktunya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi bertahun-tahun lalu.

 

nah bagian ini yang bikin saya menahan lirih, membuat saya penasaran, kepo akut. Ada kesan suram, nelangsa, dan sepi ketika saya membaca kalimat diatas. Hal itulah yang menggerakkan hati saya untuk ketuk palu agar membeli buku tersebut (saya agak lebay ya). Eh tapi..seingat saya waktu itu saya gak langsung beli buku ini sih, sepertinya 2 minggu kemudian saya baru beli, nunggu apa ya waktu itu *berusaha mengingat*, gak tau saya lupa. Yang pasti sewaktu akhirnya saya membeli buku itu, senangnya bukan main karena saya udah penasaran kebangetan dengan novel ini. Saya punya firasat kalo saya bakalan suka dengan ceritanya. 

 

Dan tau bagaimana respon saya setelah selesai membaca buku itu?

 

"Ya Allah...ini buku apaa? kenapa begini amat nasibnya Tsukuruu". Saya benar-benar termakan umpan, saya gak mengira kalo bukunya malah bikin perasaan saya jadi ribet sendiri.

 

Pasca menyelesaikan novel ini saya masih merasa kebingungan untuk memproses kembali seperti apa cerita yang ada di dalam buku. Saya merasa kurang cocok dengan keintiman yang ada pada mimpi-mimpi dari tokoh utama. Saya ngerasa aneh pas baca buku ini, merasa gelisah, ada rasa ingin segera mengakhiri dan gak nyaman tapi saya suka dengan topik kesepian yang berusaha diungkap pada cerita tersebut. Meminjam istilah yang sering dipakai orang, mungkin perasaan saya terhadap karya-karya beliau seperti love-hate relationship. Saya gak suka ketika Murakami mulai memadukan ceritanya dengan unsur magical, mimpi, dan elemen lain yang bikin otak saya kusut gak karuan. Apalagi pas baca Kafka on The Shore, yaampun saya hampir nyerah di tengah jalan, dan apa kabarnya dengan novel 1Q84, wind up chronicle dan buku-bukunya yang lain? Gak yakin bakalan sanggup baca semua buku itu haha.

 

Saya juga belum terbiasa dengan gaya bercerita bapak Murakami, namun kian bertambah pengalaman ternyata disitu letak asiknya membaca novel beliau. Justru elemen-elemen tadi yang menjadi ciri khas dalam tulisannya, beliau gemar membuat pembaca bergelimang penuh tanda tanya, berjalan tanpa arah yang jelas, memasuki dimensi asing, membentuk perasaan yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Ada apa disana? Kemana ceritanya akan dibawa pergi dan masuk? Kenapa gantung, masalahnya kayak belum selesai, apa maksud mimpinya? Kok begitu sih maksudnya gimana ya? Kemana sebetulnya dia pergi? kenapa dia menghilang? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang akan mengejutkan pembaca selama mengikuti perjalanannya.

 

Karena kehidupan itu sendiri adalah sebuah misteri.   

 

Pada akhirnya, saya memutuskan untuk membaca ulang kembali kisah Tsukuru, barangkali ada yang terlewat atau belum saya pahami sepenuhnya. Perlahan-lahan saya sadar akan satu hal, bahwa saya menyukai karya beliau karena kepiawaiannya dalam menggambarkan kondisi psikologis-mental pada tokoh dalam cerita. Tulisannya terasa cukup akrab dengan unsur yang bersangkutan dengan ilmu psikologi, hal-hal abstrak. Sebagian orang bilang karya beliau lekat dengan unsur surealism. Paling dekat bisa kita baca dari elemen mimpinya yang mengingatkan saya dengan teori Psikoanalisis Freud, yang mengatakan bahwa mimpi merupakan koneksi / jembatan antara alam sadar dengan alam bawah sadar yang memiliki kecenderungan hambatan mental. Sederhananya ketika ada ketidakpuasan pemenuhan kebutuhan dalam keadaan sadar maka semua itu akan muncul ke dalam mimpi. Dua judul buku yang mendukung; Tsukuru Tazaki tanpa warna, Kafka on the shore. Saya lupa dari dua buku lain yang pernah saya baca, apakah disana juga terdapat unsur surealis atau tidak. 


Sejauh yang saya ketahui bahwa kehadiran elemen mimpi, dan dunia surealis telah menjadi ciri khas atas karya-karya Haruki Murakami. Hingga saya pernah berpikir bahwa kebanyakan dari kisah yang dialami oleh tokoh protagonis pada intinya adalah, bagaimana tokoh tersebut menghadapi realita, menerima nasib, lalu menyelesaikan konflik yang ada. Mimpi, kesepian, pelarian, depresi, semua itu adalah bentuk akibat atas apa yang sedang mereka alami. Penulis mampu menjahit hal-hal magis ataupun abstrak ke dalam cerita hingga terkadang sulit menerjemahkan artinya. 


Some things in life are too complicated to explain in any language.


Akhir cerita, membaca kisah dari Tsukuru Tazaki tanpa warna bukanlah pengalaman yang paling mengesankan bersama tulisan beliau, saya memilih Kafka on The Shore sebagai novel yang sering bikin saya ngedumel, dan jengkel tapi puas dengan segala keajaibannya. Namun saya sedikit bersyukur karena Tsukuru Tazaki tanpa warna menjadi buku pertama yang saya baca dari sekian banyak karyanya Murakami. Kayaknya saya mau baca bukunya yang lain,tapi bingung mulai dari buku apa, dan gak mau baca yang bahasa inggris. Jika ada yang ingin merekomendasikan, saya minta yang udah diterjemahkan aja :D


 

Soji Shimada

Sebetulnya saya baru berkenalan dengan karya beliau di tahun 2020 melalui novelnya yang paling laris berjudul The Tokyo Zodiac Murders. Saya sering melihat buku ini dijadikan sebagai novel thriller yang harus dibaca bagi penggemar genre thriller. Banyak sekali sebetulnya novel-novel thriller yang kepengin dibaca tapi seringkali saya keburu menetapkan standar dan ekspektasi yang akhirnya bikin saya menunda untuk baca buku tersebut. 

 

Sewaktu banyak orang membahas tokyo zodiac dan nama Soji Shimada saya gak tertarik sama sekali atau penasaran dengan bukunya. Sebab ketika saya lagi suka banget baca buku dari satu penulis, susah untuk mulai membaca buku lain meskipun genrenya sama. 

 

Nah suatu hari, saya lagi asik melihat-lihat story instagram kenalan saya. Kalo gak salah dia menyebutkan ada satu kasus yang tayang dalam drakor Voice season 3 terinspirasi dari novel Tokyo Zodiac murders. Sontak saya langsung kaget, kok saya gak pernah mendengar tentang hal ini. Kemudian saya tanya ke kawan saya kasus mana yang terinspirasi dari novel tersebut soalnya pas baca blurb novel gak ada kasus yang mirip dengan cerita dalam drama Voice. Lalu saya mengingat kembali kasus dari drama itu, dan oh! mungkin maksudnya kasus yang muncul di episode pertama dan bukan terinspirasi dari novelnya tapi hanya punya kemiripan aja. Malahan dulu saya mengira kalau novel ini ada sangkut pautnya dengan film Zodiac yang rilis pada tahun 2007 silam :p, ternyata ya gak ada hubungannya sama sekali. 

 

Tanpa babibu lagi saya langsung cek ketersediaan buku ini lewat Gramedia digital, dan ternyata bukunya ada disana. Sewaktu ada yang bilang terdapat  kemiripan kasus antara drama Voice dan novel TZM, saya langsung kepengin baca sebab saya sendiri juga suka dengan drama tersebut. Ingin tau bagian mana yang dibilang mirip, meskipun hanya berdasarkan cocoklogi yang gak ada sumber validnya tapi saya udah terlanjur penasaran.

Akhirnya saya baca lah buku itu wuz wez wozz selesai dalam 2 hari di bulan April. Beneran.. .. saya bingung sih menyampaikan perasaan kagum setelah baca satu buku tuh gimana ><. Pokoknya novel ini ya saya banget. Saya suka semuanya. Karakter detektif dalam buku itu ngingetin saya dengan Sherlock Holmes, walau gak mirip banget tapi gerak-gerik dan pembawaan sikap dari Detektif Kiyoshi mengingatkan saya dengan detektif buatan Conan Doyle tersebut. Terus yang paling bikin saya geleng-geleng kepala saat baca bagian Trik pembunuhan yang diciptakan oleh pelakunya. Super! Super. Licin sekali sampai membuat seorang detektif kagum dengan trik yang dilakukan si pembunuh. Kok ya bisa penulisnya mikir sampe kesana kemari, naro satu-satu sesuai lokasi, pake diukur segala berapa kedalamannya, totalitas banget bikin saya mikir berulang kali baca bagian-bagian itu (yang udah baca bukunya mungkin bisa paham dengan maksud saya). Aduuuuuh..baru kali ini saya baca novel misteri seperti ini, rasanya pengin ikutan masuk ke dalam cerita. Saya juga sudah pernah membuat ulasan novel terkait lewat blog saya, disini kalau teman-teman mau baca.

Pengalaman pertama membaca bukunya Soji, saya langsung menobatkan novel ini sebagai salah satu novel favorit periode Januari-Mei tahun 2021. Awalnya saya sedikit gak rileks ketika baca bab awal yang bikin kepala mumet, narasinya memang gak spesial atau beralur cepat tapi semakin saya mengikuti kepusingan itu saya semakin penasaran. Gimana sih pelaku bisa lolos dari mata para kepolisian dan pelaku berhasil gak ditemukan selama berpuluh-puluh tahun. Saya juga sangat menikmati setiap dialog-dialog yang hadir, terutama pada bagian yang didominasi oleh percakapan antara Kiyoshi dan Kazumi soal kasus tersebut. Seperti yang saya bilang tadi, rasanya tuh saya beneran kepengin masuk ke dalam buku dan beraksi langsung bersama mereka untuk menyelidiki kasusnya. Memang ada bagian yang menjadi pengecoh dalam cerita, tapi saya rasa itu adalah hal yang wajar, supaya cerita semakin greget. Saya sarankan membacanya dengan teliti, saksama dan khusyuk. Karakter tokoh dalam buku ini juga terasa hidup sekali! Khususnya Detektif Kiyoshi bersama rekannya yaitu Detektif Kazumi. Keduanya memiliki sifat dan kepribadian yang sangat bertolak belakang. 

They come to nothing! Our pleasure, our sorrow, our anger—it all comes and goes like a typhoon or a squall or cherry blossoms. We are all being pushed by our petty feelings and carried away to the same place. None of us can resist it. Do whatever you think is idealistic? But it's not! It's just petty! We only end up knowing that our efforts were in vain!” - Kiyoshi Mitarai

Gak jarang saya berhasil dibuat tertawa saat membaca dialog mereka. Satu, out of the box, satunya lagi based on book theory banget.  Kombinasi yang pas kan? Sangat menghibur!

Setelah selesai membaca buku ini sebetulnya langsung kepengin baca buku beliau yang lain, berjudul Murder in the Crooked House, namun saya tunda dahulu. Saya akui sih, saya sempat pusing pasca membaca TZM karena alur cerita dalam buku cukup cepat sehingga membuat saya ingin membacanya sekaligus langsung tamat. Akibatnya, saya mesti kasih napas dulu untuk otak saya yang gak bisa diajak buru-buru. Belum lagi perihal proses penyelidikan dalam kasusnya yang cukup rumit, mengaitkan kasus dengan unsur ilmu lain seperti astronomi dan geologi.

Ohya..soal kemiripan kasus antara drama Voice 3 dan buku ini gak ada kesamaan yang signifikan. Dalam blurb dikatakan bahwa salah satu tokoh ingin menciptakan Azoth dari potongan-potongan tubuh para wanita. Hanya disitu saja kemiripannya, untuk bagian lain seperti motif, pelaku atau alur cerita, tidak ada yang mirip atau saling berkaitan satu sama lain.

Secara keseluruhan saya memang sangat puas dengan novel ini. Sepertinya saya menemukan satu lagi penulis Jepang yang berhasil membuat saya betah membaca karya-karyanya. Kedua penulis seperti Keigo Higashino dan Soji Shimada mungkin akan tetap saya ikuti walau bagaimana pun karena mereka memang penulis novel bergenre misteri thriller, genre favorit saya. Lain hal dengan Haruki Murakami, saya gak tahu sampai kapan akan bertahan dengan ragam tulisannya, terlebih karena jenis cerita yang disajikan memang terbilang baru dan asing untuk saya, bahkan sampai hari ini saya masih mencoba beradaptasi.   

ooo


Begitulah kira-kira pengalaman saya bersama ketiga penulis asal Jepang ini. Tadinya saya mau membahas tentang kepopuleran penulis di tanah air Indonesia, tapi kok kayaknya perlu riset kecil-kecilan dulu. Sedangkan sekarang saya maunya ya nulis santai aja, ngobrol ringan dengan menuliskan pengalaman pribadi sepertinya lebih asyik.  Terus, setelah dipikir-pikir lagi ternyata saya punya pengalaman pertama yang cukup memorable ketika membaca tiga buku yang sudah saya sebutkan  diatas. Diluar dugaan rencana awal pengin bikin tulisan soal penulisnya malah berakhir dengan menuliskan pengalaman saya pribadi 😅 


Sebagai penutup, adakah yang punya pengalaman serupa? pengalaman membaca yang paling kamu ingat, pertemuan pertama dengan buku yang paling berkesan, gak mudah dilupakan atau hal-hal lain diluar ekspektasi? Kamu boleh tulis ceritamu di kolom komentar....

Comments

  1. Aku juga pertama baca novelnya Keigo Higashino itu yang Kesetiaan Mr.X. Itu juga ketemunya ga sengaja, pas ada rekomendasi dari Gramedia Digital, terus ternyata tokohnya Prof. Galileo. Berhubung sudah nonton 2 season doramanya (yang film malah belum sama sekali ^^"), jadi langsung cuss baca novelnya. Menurutku penuturannya yang beda dari kebanyakan novel misteri itulah yang bikin buku ini menarik.

    Kalau Murakami sendiri, dulu sempat nyoba baca Norwegian Wood versi Bahasa Inggris, tapi kayaknya baru 4 halaman sudah nyerah. Hahaha. Baru benar2 baca itu Kafka on The Shore dan aku kok kayak mendengarkan gabungan musik klasik sama jazz. Orisinil ala musik klasik, tapi juga bikin mumet (buatku) kayak musik jazz. Hahaha.

    Sedangkan untuk Soji Shimada baru dengar karena postingan mba Reka di TZM. Mungkin karena belum ada dorama dari novelnya.

    Sampai beberapa tahun terakhir, aku nggak pernah baca karya penulis luar, kecuali yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, itu juga yg ngehits kayak JK.Rowling, Agatha Christie, Dan Brown, gitu2 aja. Baru akhir-akhir ini kenal penulis dari Asia. Itu juga banyakan dari Jepang, yang Korea baru Kim Jiyeong, ada beberapa yang tertarik juga, sayangnya jarang ada yg versi digital entah itu di GD atau iPusnas *atau akunya aja yg ga nemu kali, ya? XD*

    ReplyDelete
  2. Wew makin nggak sabar baca buku Toko Kelontong Namiya (iya belum aku baca soalnya diambil sama yang punya🙈😂)

    ReplyDelete
  3. Itu yang Keajaiban Kelontong Namiya sangat berkesan bagi saya. Sampai sekarang masih terasa perasaan hangatnya kalau ingat cerita itu ^^

    Rasa-rasanya saya belum pernah membaca karya Haruki Murakami dan Soji Shimada. Walaupun benar, nama keduanya sudah sering banget saya dengar entah dari mana. Semoga nanti bisa "kenalan" juga dengan karya-karya beliau.

    ReplyDelete
  4. Kebetulan sudah membaca karya-karya dari penulis di atas berkat racun dari Kakak juga sebelumnya 🤣 dan aku setuju sama pernyataan-pernyataan Kakak, apalagi soal Murakami karena aku paling banyak baca buku beliau dibanding 2 penulis lainnya, jadi aku bisa merasakan betul apa yang Kakak rasakan perihal buku Murakami 🤣.

    Sayangnya buku Murakami yang sudah diterjemahkan ke Indonesia belum terlalu banyak pilihannya, apakah Kak Reka tidak tertarik untuk membaca Norwegian Wood? Hahaha, tapi buku ini nggak se-surrealis buku lainnya, ini masih terbilang normal. Membaca Kafka juga membuatku jatuh cinta dengan karya Murakami karena benar-benar bikin jadi linglung pas ending tapi pengalaman membacanya sungguh fresh & new buatku saat itu. Dan, setiap kali aku membaca karya Murakami, aku merasakan perasaan attach yang dalam dengan para karakternya. Mungkin ini efek dari gaya penulisannya, keren sih 😍. Memang membaca Murakami selain harus menyiapkan mental, harus menyiapkan mood juga karena buku-bukunya nggak ada yang tipis, dan kebanyakan slow paced. Someday kalau Kakak sudah siap, mari baca Wind-Up Bird Chronicle hahaha.

    Untuk karya Keigo, aku juga sukaaa ♥. Dipikir-pikir, pengalaman membaca Namiya agak membosankan di tengah, tapi secara keseluruhan sungguh epic sewaktu aku sadar bahwa dari 1 cerita ke cerita lainnya ada benang merahnya. Ini bikin nggak habis pikir sih, selain ceritanya nggak bisa masuk di akal karena magical, tapi adanya benang merah itu bikin nggak habis pikir wkwk. Dan, aku jadi pengin segera baca Kesetiaan Mr.X!! Seperti biasa, udah numpuk lama di GD tapi belum ada mood baca, tapi Kak Reka sukses bikin aku penasaran!! Terima kasih a lot 😍

    ReplyDelete

Post a Comment